PENGERTIAN BELAJAR, CIRI, JENIS, BENTUK SERTA ALAT YANG DIGUNAKAN DALAM MENGAJAR


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dalam jenjang pendidikan .hal ini menunjukan bahwa berhasil atau tidak nya pencapaian tujuan pendidikan amat bergantung pada proses belajar yang di alami siswa, baik ketika ia berada di sekolah ,lingkungan rumah atau keluarga nya sendiri.

Oleh karena nya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik karena kekeliruan atau ketidak lengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar, baik itu mengenai definisi belajar dan hal-hal yang berkaitan mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil yang akan dicapai. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini pemakalah akan sedikit membahas tentang pengertian belajar dan jenis-jenis belajar.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud dengan belajar?
  3. Bagaimanakah cirri-ciri belajar?
  4. Jenis-jenis belajar?

  5. Tujuan Penulisan

Adapun motivasi kami dalam penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan belajar, serta bagaimana bisa disebut belajar dalam arti yang sebenarnya dan juga ingin mengetahu terbagi berapa macam jenis-jenis belajar itu dan yang tak kalah pentingnya adalah sebagai pemenuhan tugas makalah yang diembankan kepada kami untuk melengkapi mata kuliah Psikologi Belajar PAI.

  1. Metode Penulisan

Adapun metode yang kami gunakan adalah yang paling utama terlebih dahulu adalah metode kepustakaan yang terkenal dikalangan para mahasiswa, seterusnya agar makalah kami lebih berbobot tak lupa kami masuk lewat internet dengan mengambil bahan-bahan yang kami rasa perlu ditambah agar melengkapi dari isi makalah kami.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Belajar

    Fenomena yang ada dalam lingkungan kita masih banyak sekali yang mengartikan belajar dalam arti sempit. Yakni seorang yang belajar di dalam ruang kelas, atau sekolah. Padahal sebenarnya belajar tidak sesempit itu. Dan masih banyak orang yang masih beranggapan, bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu atau menuntut ilmu saja, adapula yang mengartikan bahwa belajar adalah menyerap pengetahuan.

    Ada pula sebagian orang yang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/ materi pelajaran. Padahal belajar merupakan proses dasar dari pada perkembangan hidup manusia. Dan belajar bukanlah sekedar pengalaman belaka, akan tetapi belajar merupakan sebuah proses. Oleh karena itu belajar berlangsung secara aktif dan intregatif, dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. Karena pada hakekatnya seseorang melakukan kegiatan belajar itu pastilah memilki sebuah tujuan. Contoh saja, ketika kita menginginkan untuk pandai bersepeda tentulah kita berusaha untuk belajar bagaimana menggunakan sepeda itu dengan baik. Ilustrasi tersebut merupakan contoh daripada belajar.

    Untuk menghindari ketidak lengkapan persepsi dari belajar itu sendiri dan agar kita dapat memahami apa itu belajar secara luas, maka disini pemakalah akan memaparkan beberapa pengertian belajar dari beberapa sumber.


    1. Secara Etimologis

    Menurut kamus besar Indonesia, belajra memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini memiliki arti bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu, yang merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya agar mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dimiliki sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, mengerti, memahami, dapat melaksanakan dan memiliki sesuatu.

    Sedangakan menurut Hirlgarad dan Bower, belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai, dan mendapatkan informasi atau menemukan atau bisa juga dikatakan bahwa belajar merupakan adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasan terhadap sesuatu.

    Menurut Muhibbin Syah, dalam bukunya, psikologi belajar menyatakan bahwa “belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsure yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.

    1. Secara Terminologis

    Menurut Cronbach (1954): belajar yang terbaik adalah melalui pengalaman. Karena dengan pengalaman tersebut, pelajar menggunakan seluruh panca indranya.

    Sedangakan Morgan dkk(1986) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative tetap dan terjadi sebagai latihan atau pengalaman yang disebabkan adanya reaksi terhadap suatu situasi tertentu atau adanya proses internal yang terjadi di dalam diri seseorang.

    Woolfolk (1995) “learning acroos experience causes a relatively permanent change in a individualis knowledge or behavior” disengaja atau tidak, bahwa perubahan yang terjadi melalui proses belajar ini bisa saja kearah yang lebih baik atau malah sebaliknyake arah yang salah. Karena belajar seseorang ditentuukan oleh pengalaman-pengalaman yang diperolehnya saat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya yang bisa baik atau buruk.

    Moh. Surya (1997) berpendapat bahwa belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

    Skinner juga ikut andil dalam ini, dengan mengemukakan pendapatnya, bahwa belajar adalah “the teaching learning prosess” yakni bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuain tingkah laku yang berlangsung secara progresif.

    Timbulnya keanekaragaman pendapat para ahli di atas adalah fenomena perselisihan yang wajar, karena adanya perbedaan titik pandang. Untuk itu, penulis akan menganalisis definisi belajar dari berbagai penadapat tersebut. Bahwasanya ” belajar merupakan usaha untuk memperoleh pengetahuan, yang bisa melalui proses adaptasi, pengalaman, dan informasi yang telah didapat atau penemuan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga dengan belajar, manusia menjadi tahu, mengerti, memahami, dan mempengaruhi terhadap proses perubahan manusia itu sendiri.

    Dan setelah kita mengetahui tentang apa itu belajar. Maka kita juga harus bisa membedakan mana itu kegitan belajar dan sebaliknya. Begitu juga dengan hasil perubahan dari belajar dan hasil perubahan yang yang bukan dari proses belajar. Untuk itu disini pemakalh akan sedikit memaparkan hal-hal tersebut.

    Seseorang dikatakan belajar ketika di dalam dirinya terdapat keinginan atau tujuan untuk bisa melakukan suatu hal, sehingga mengakibatkan perbuatan dirinya menjdi sebuah kegiatan yang dinamakan belajar. Contoh, ketika kita melihat teman kita bisa mengoperasikan sebuah kalkulator ataupun HP dan kita tertarik untuk bisa melakukannya pula, dalam diri kita akan muncul keinginan untuk mencoba mengoperasikan alat tersebut, yang kemudian proses dari hal tersebut disebut dengan belajar.

    Dan seseorang dikatakan telah belajar sesuatu ketika didalam dirinya terjadi perubahan tertentu, misalnya dari tidak dapat naik sepeda menjadi dapat naik sepeda, tidak mahir bahasa Inggris menjadi mahir berbicara bahasa inggris. Namun tidak semua perubahan itu disebut sebagai hasil belajar. Misalnya, perubahan-perubahan yang terjadi pada bayi, hal itu bukan lah perubahan dari hasil belajar, melainkan terjadi karena adanya pematangan pada diri si bayi.

  2. Proses Belajar Mengajar Menurut Jerome S. Bruner

    Pendirian yang terkenal yang dikemukakan oleh J. Bruner ialah, bahwa setiap mata pelajaran dapat diajarakan dengan efektif dalam bentuk yang jujur secara intelektual kepada setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya. Pendiriannya ini didasarkan sebagian besar atas penelitian Jean Piaget tentang perkembangan intelektual anak. Berhubungan dengan hal itu, antara lain:

    1. Perkembangan intelektual anak

              Menurut penelitian J. Piaget, perkembangan intelektual anak dapat dibagi menjadi tiga taraf.

    2. Fase pra-operasional, sampai usia 5-6 tahun, masa pra sekolah, jadi tidak berkenaan dengan anak sekolah. Pada taraf ini ia belum dapat mengadakan perbedaan yang tegas antara perasaan dan motif pribadinya dengan realitas dunia luar. Karena itu ia belum dapat memahami dasar matematikan dan fisika yang fundamental, bahwa suatu jumlah tidak berunah bila bentuknya berubah. Pada taraf ini kemungkinan untuk menyampaikan konsep-konsep tertentu kepada anak sangat terbatas.
    3. Fase operasi kongkrit, pada taraf ke-2 ini operasi itu “internalized”, artinya dalam menghadapi suatu masalah ia tidak perlu memecahkannya dengan percobaan dan perbuatan yang nyata; ia telah dapat melakukannya dalam pikirannya. Namun pada taraf operai kongkrit ini ia hanya dapat memecahkan masalah yang langsung dihadapinya secara nyata. Ia belum mampu memecahkan masalah yang tidak dihadapinya secara nyata atau kongkrit atau yang belum pernah dialami sebelumnya.
    4. Fase operasi formal, pada taraf ini anak itu telah sanggup beroperasi berdasarkan kemungkinan hipotesis dan tidak lagi dibatasi oleh apa yang berlangsung dihadapinya sebelumnya.
    5. Tahap-tahap dalam proses belajar mengajar

              Menurut Bruner, dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:

    6. Tahap informasi (tahap penerimaan materi)

              Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.

    7. Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)

              Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrakatau konseptual.

    8. Tahap evaluasi

              Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi.

    9. Kurikulum spiral

              J. S. Bruner dalam belajar matematika menekankan pendekatan dengan bentuk spiral. Pendekatan spiral dalam belajar mengajar matematika adalah menanamkan konsep dan dimulai dengan benda kongkrit secara intuitif, kemudian pada tahap-tahap yang lebih tinggi (sesuai dengan kemampuan siswa) konsep ini diajarkan dalam bentuk yang abstrak dengan menggunakan notasi yang lebih umum dipakai dalam matematika. Penggunaan konsep Bruner dimulai dari cara intuitif keanalisis dari eksplorasi kepenguasaan. Misalnya, jika ingin menunjukkan angka 3 (tiga) supaya menunjukkan sebuah himpunan dengan tiga anggotanya.

              Contoh himpunan tiga buah mangga. Untuk menanamkan pengertian 3 diberikan 3 contoh himpunan mangga. Tiga mangga sama dengan 3 mangga.

  3. Ciri-ciri Belajar

    Setelah kami memaparkan tentang apa itu belajar, selanjutnya kami akan menuliskan tentang bagaimana ciri-ciri belajar tersebut. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa tidak semua aktivitas yang mengalami perubahan itu merupakan hasil daripada sebuah aktivitas belajar.

    Dari beberapa definisi para ahli di atas dapat disimpulkan adanya beberapa ciri belajar yang mana belajar itu ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior ) dimana perubahan tingkah laku ini menurut Moh Surya ada tujuh yaitu;

    1. Perubahan intensional ;perubahan yang disengaja dan dilakukan dengan sadar begitu juga denga hasil-hasilnya misalnya; individu tersebut menyadari bahwa pengetahuan dalam dirinya semakin bertambah .
    2. Perubahan continyu ;bertambahnya pengeta huan yang dimiliki merupakan kelanjutan dari pengetahuan yang di miliki sebelumnya.
    3. Perubahan yang fungsional; setiap perubahan yang terjadi dapat di manfaatkan untuk kepentingan hidupnya.
    4. Perubahan yang bersifat positif; perubahan prilaku yang terjadi itu bersifat normatif dan menunjukan kearah kemajuan.
    5. Perubahan yang bersifat aktif; unuk meperoleh perubahan prilaku, maka individu tersebut aktif berupaya melakukan perubahan.
    6. Perubahan yang bertujuan dan terarah; orang yang ketika belajar memiliki tujuan yang dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
    7. Perubahan prilaku secara keseluruhan; perubahan prilaku yang bersifat menyeluruh yakni bukan hanya sekedar pengetahuan, tetapi perubahan dalam sikap serta ketrampilannya.

    Dari banyaknya mengenai ciri-ciri belajar seperti yang telah disebutkan di atas, dapat penulis analisis bahwa, belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku ,dimana perubahan tingkah laku itu tidak bisa secara langsung dapat diamati karena perubahan tersebut bersifat potensial,disamping itu perubahan tingkah laku itu bisa berupa dari hasil latihan atau pengalaman, dan pengalaman itulah yang akan memberikan dorongan untuk mengubah tingkah laku.

  4. Ciri, Perwujudan dan Jenis Belajar

    Secara teoretis belajar dapat diartikan sebagia perubahan tingkah laku, namu tidak semua perubahan tingkah laku organisme dapat dianggap belajar. Perubahan yang timbul karena proses belajar sudah tentu memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas.

  • Ciri Khas Perilaku Belajar

Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik. Karakteristik perilaku belajar ini dalam beberapa pustaka rujukan, antara lain Psikologi Pendidikan oleh Surya (1982), disebut juga sebagai prinsip-prinsip belajar. Di antara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi Karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah:

  1. Perubahan Intensional

    Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan. Karakteristik inni mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan adanya perubahan yang dialami atau sekurang-kurangnya ia merasa adanya perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap, dan pandangan sesuatu, keterampilan dan sebaginya.

    Di samping perilaku belajar itu menghendaki perubahan yang disadari juga diarahkan pada tercapainya perubahan tersebut. Namun demikiann, perlu pula dicatat bahwa kesengajaan belajar itu, menurut Anderson (1990) tidak penting, yang penting cara mengelola informasi yang diterima siswa pada waktu pembelajaran terjadi. Di samping itu, dari kenyataan sehari-hari juga menunjukkan bahwa tidak semua kecakapan yang kita peroleh merupakann hasil kesengajaan belajar yang kita sadari.

  2. Perubahan Positif dan Aktif

    Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan. Hal ini juga bermakna bahwa perubahan tersebut senantiasa merupakan penambahan, yaknni diperolehnya sesuatu yang baru (seperti pemahaman dan keterampilan baru) yang lebih bak daripada apa yang telah ada sebelumnya. Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinnya seperti proses kematangan (misalnya, bayi yang bisa merangkak setelah bisa duduk), tetapi karena usaha siswa itu sendiri.

  3. Perubahan Efektif dan Fungsional

    Perubahan yang timbul karena belajar bersifat efektif, yakni berhasil guna. Artinya, perubahan tersebut membawa pengaruh, makna dan manfaat tertentu bagi siswa. Selain itu, perubahan dalam proses belajar bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relatif menetap dan setiap saat apabila dibutuhkann, perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan.

  • Perwujudan Perilaku Belajar

Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya leihh sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut :

  1. Kebiasaan

    Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar, kebiasaan-kebiasaannya akan tampak berubah. Menurut Burghardt (1973), kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecendruangan respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang. Dalam Proses belajar, pembiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Karena proses penyusutan inilah, munculah suatu pola bertingkah laku baur yang relatif menetap dan otomatis.

  2. Keterampilan

    Keterampilan ialah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular) yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olahhraga dan sebagainya. Meskipun sifatnya motoric, namun keterampilan memerulukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadarann yang tinggi. Dengan demikian, siswa yang melakukan gerak motoric dengan koordinasi dan kesadaran yang rendah dapat dianggap kurang trampil.

    Menurut Rebber (1988), keterampilan adalahh kemampuan melakukann pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai mutu hasil tertentu.

  3. Pengamatan

    Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dam memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti telinga dan mata. Berkat pengalaman belajar seorang siswa akann mampu mencapai pengamatan yang benar objektif sebelum mencapai pengertian. Pengamatan yang salahh akan mengakibatkan timbulnya pengertian yang salah pula.

  4. Berpikir Asosiatif dan Daya Ingat

    Berpikir asosiatif adalah berpikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya. Berfikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan dan respons. Disamping itu daya ingat merupakan perwujudan belajar, sebab merupakan unsur pokok dalam berfikir asosiatif. Jadi, siswa yang telah mengalami poses belajar akan ditandai dengan bertambanya pengetahuan dalam memori, serta meningkatnnya kemampuan menghubungkan materi tersebut dengan stimulus atau situasi yang sedang dihadapi.

  5. Berpikir Rasional dan Kritis

    Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah. Pada umumnya siswa yang berpikir rasional akan menggunakan prinsip dan dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana.

  6. Sikap

    Menurut Bruno (1987) sikap adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. Pada prinsipnya sikap itu dapat kita anggap suatu kecenderuanga siswa untuk bertindak dengan cara tertentu

  7. Inhibisi

    Inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan timbulnya suatu respons tertentu karena adanya proses respons lain yang sedang berlangsung (Reber, 1988). Dalam porses belahar inhibisi adalah kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu lalu memilihh melakukan tindakan lain yang lebihh baik ketika ia berinteraksi dengan lingkungan.

  8. Apresiasi

    Apersepsi adalah gejala rana afektif yang pada umumnya ditunjukan pada karya seni budaya. Tingkat apersepsi siswa terhadap nilai sebuah karya sangat bergantung pada tingkat pengalaman berlajarnya.

  9. Tingkah Laku Afektif

    Tingkah laku afektif adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan seperti: takaut, marah, sedih, gembira dan sebagainya. Tingkah laku seperti ini tidak terlepas dari pengaruh pengalaman belajar.

  1. Jenis-Jenis dan Bentuk Belajar

    Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam. Untuk belajar itu sendiri memilki jenis-jenis yang berbeda, layaknya orang yang memiliki berbagai kebutuhan dan tujuan yang berbeda pula.

    Di bawah ini akan kami paparkan tentang apa saja yang termasuk jenis-jenis belajar:

    1. Belajar Abstrak

    Belajar jenis ini sering diartikan dengan belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak, diperlukan nalar yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Seperti ilmu tauhid, filsafat Islam dan lain-lain.

    1. Belajar Keterampilan

    Belajar jenis ini adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik, yakni yang berhubungan dengan urat-urat saraf dan otot-otot. Tujuan belajar jenis adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan-keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini, latihan-latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Misalnya : wudhu, tayammum, haji dan pelajaran lain yang menyangkut soal keterampilan dalam Islam.

    1. Belajar Sosial

    Belajar jenis ini adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah-masalah social. Tujuan belajar jenis ini adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah social seperti keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah-masalah lain yang bersifat social atau kemasyarakatan. Belajar social juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain atau kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proposional. Dalam pembelajan PAI muatan belajar sosial ini adalah pendidikan Akidah Akhlak.

    1. Belajar Pemecahan Masalah

    Belajar jenis ini adalah belajar dengan menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Artinya, belajar jenis ini tampak pada penggunaan pendekatan sistematis, logis, teratur, dan teliti sebagai dasar pemecahan masalah. Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas. Untuk mencapai tujuan belajar jenis ini, kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan.

    1. Belajar rasional

    Belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional sering disebut belajar rasional. Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh bermacam-macam keecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Belajar jenis ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalahnya. Melalui belajar jenis ini, diharapkan memiliki kemampuan rasional, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan sistematis.

    Bidang-bidang studi yang dapat digunakan sebagai sarana belajar rasional, sama dengan bidang-bidang studi untuk belajar pemecahan masalah. Perbedaannya, belajar rasional tidak member tekanan khusus pada penggunaan bidang studi eksakta. Artinya, bidang-bidang studi noneksakta pun dapat member efek yang sama dengan bidang studi eksakta dalam belajar rasional

    1. Belajar kebiasaan

    Belajar jenis ini diartikan dengan proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar jenis ini selain menggunakan perintah, contoh atau tauladan, dan pengalaman khusus, juga menggunakan hokum-hukum dan ganjaran. Tujuan belajar ini adalah agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu. Dengan perkataan lain, selaras dengan norma-norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun tradisional dan cultural.

    1. Belajar apresiasi

    Belajar jenis ini sering diartikan dengan belajar mempertimbangkan arti penting atau nilai suatu objek. Tujuan belajar jenis ini adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa seperti kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra, music, dan sebagainya. Mata pelajaran yang menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi, antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan, kesenian, dan menggambar. Dalam mata pelajaran agama islam, jenis belajar ini tampak pada apresiasi siswa terhadap seni membaca alqur’an dan kaligrafi.

    1. Belajar pengetahuan

    Belajar jenis ini dikenal dengan belajar studi. Belajar pengetahuan adalah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap suatu objek pengetahuan tertentu. Tujuan belajar jenis ini adalah agar siswa memperoleh tambahan informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu. Seperti dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan penelitian lapangan.

Berbeda dengan Syah (1996), Slameto (1991 : 5-8) menyatakan jenis-jenis belajar mencakup :

  1. Belajar bagian
  2. Belajar dengan wawasan
  3. Belajar diskriminatif
  4. Belajar global atau keseluruhan
  5. Belajar incidental
  6. Belajar instrumental
  7. Belajar intensional
  8. Belajar laten
  9. Belajar mental
  10. Belajar produktif
  11. Belajar verbal.

Ada juga yang mengatakan jenis-jenis belajar begini :

  1. Belajar berdasarkan Pengamatan (sensory type of learning), yaitu Upaya memfungsikan semua indera melalui pengamatan sensori
    terhadap dunia luar, seperti melihat
  2. Belajar berdasarkan gerak (motor tipe of learning), yaitu menerima masukan lalu langsung digerakkan atau dipraktikkan, seperti belajar
    renang-berenanglah.
  3. Belajar berdasarkan hafalan (memory type of learning), yaitu upaya melatih daya ingatan
  4. Belajar berdasarkan emosi (emotional type of learning), yaitu upaya melatih daya emosional melalui pancingan atau rangsangan yang
    diberikan oleh guru atau sumber lain
  5. Belajar berdasarkan pemecahan masalah (problem solving type of learning), yaitu belajar melalui penyelesaian suatu persoalan (problem)
    yang dihadapi secara ilmiah.

Selain jenis-jenis belajar diatas, Slameto (2007 : 5) juga membagi jenis- jenis belajar yang berbeda, berikut penulis uraikan dibawah ini :

  1. Belajar bagian (part learning, fractioned learning) umumnya belajar bagian dilakukan oleh sesorang bila dihadapkan pada materi belajar yang bersifat luas atau ekstensif.
  2. Belajar dengan wawasan (learning by insight ) konsep ini diperkenalkan oleh W.Kohler, salah seorang tokoh psikologi Gestalt. wawasan (insight) merupak pokok utama dalam pembicaraan psikolagi belajar dan proses berpikir. Dan wawasan berorientasi pada data yang bersifat tingkah laku.
  3. Belajar diskriminatif (discriminatif learning) ialah sebagai suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi/simulus dan menjadikannya sebagai pedoman dalam bertingkah laku.
  4. Belajar global/keseluruhan (global whole learning) dimana bahan pelajaran dipelajari secara keseluruhan berulang sampai pelajar menguasainya
  5. Belajar insindetal (incindental learning) belajar disebut insindetal bila tidak ada instruksi atau petunjuk yang diberikan pada individu mengenai materi belajar yang akan diujikan.
  6. Belajar instrumental (instrumental learning) yaitu reaksi-reaksi seseorang siswa yang diperlihatkan diikuti oleh tanda-tanda yang mengarah pada apakah siswa tersebut akan mendapat hadiah, hukuman, berhasil atau gagal.
  7. Belajar intersional (intersional learning) belajar dalam arah tujuan.
  8. Belajar laten (latent learning) yaitu perubahan-perubahan tingkah laku yang terlihat tidak terjadi secara segera.
  9. Belajar mental (mental learning) yaitu perubahan tingkah laku yang mungkin terjadi disini tidak nyata terlihat, melainkan hanya berupa perubahan proses kognitif karena ada bahan yang dipelajari.
  10. Belajar produktif (produktive learning) R. Berguis (1964) memberikan arti belajar produktif sebagai belajar dengan trasfer yang maksimum. Belajar adalah mengatur kemungkinan untuk melakukan trasnfer tingkah laku dari satu situasi ke situasi yang lain.
  11. Belajar verbal (verbal learning) yaitu belajar mengenai materi verbal dengan melalui latihan dan ingatan.

Selanjutnya para ilmuwan telah mengkategorikan bentuk-bentuk belajar yang umumnya diterapkan. Gagne (1984) mengemukakan ada lima bentuk belajar, yaitu:

  1. Belajar Responden.

Dalam belajar ini, suatu respon dikeluarkan oleh suatu stimulus yang telah dikenal. Jadi, terjadinya proses belajar dikarenakan adanya stimulus. Misalnya Maya bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh gurunya dengan benar. Kemudian guru tersebut memberikan senyuman dan pujian kepadanya. Akibatnya Maya semakin giat belajar. Senyum dan pujian guru ini merupakan stimulus tak terkondisi. Tindakan guru ini menimbulkan perasaan yang menyenangkan pada diri Maya sehingga ia membuat dia lebih giat lagi dalam belajar.

  1. Belajar Kontiguitas

    Belajar dalam bentuk ini tidak memerlukan hubungan stimulus tak terkondisi dengan respons. Asosiasi dekat (contiguous) sederhana antara stimulus dan respons dapat menghasilkan suatu perubahan dalam perilaku individu. Hal ini disebabkan secara sederhana manusia dapat berubah karena mengalami peristiwa-peristiwa yang berpasangan. Belajar kontiguitas sederhana bisa dilihat jika seseorang memberikan respon atas pertanyaan yang belum lengkap, seperti “dua kali dua sama dengan?” Maka pasti bisa menjawab “empat”. Itu adalah contoh asosiasi berdekatan antara stimulus dan respon dalam waktu yang sama.

    Bentuk belajar kontiguitas yang lain adalah “stereotyping”, yaitu adanya peristiwa yang terjadi berulang-ulang dalam bentuk yang sama, sehingga terbentuk dalam pemikiran kita. Seringkali sinetron televisi memperlihatkan seorang ilmuwan dengan memakai kacamata, ibu tiri adalah wanita yang kejam. Maka sinetron televisi menciptakan kondisi untuk belajar stereotyping, padahal hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

  2. Belajar Operant

    Belajar bentuk ini sebagai akibat dari reinforcement, bukan karena adanya stimulus, sebab perilaku yang diinginkan timbul secara spontan ketika organisme beroperasi dengan lingkungannya. Maksudnya perilaku individu dapat ditimbulkan dengan adanya reinforcement segera setelah adanya respon. Respon ini bisa berupa pernyataan, gerakan dan tindakan. Misalnya respon menjawab pertanyaan guru secara sukarela, maka reinforcer bisa berupa ucapan guru “bagus sekali”, “kamu dapat satu poin”, dan sebagainya.

  3. Belajar Observasional

    Konsep belajar ini memperlihatkan bahwa orang dapat belajar dengan mengamati orang lain melakukan apa yang akan dipelajari. Misalnya anak kecil belajar makan itu dengan mengamati cara makan yang dilakukan oleh ibunya atau keluarganya.

  4. Belajar Kognitif

    Bentuk belajar ini memperhatikan proses-proses kognitif selama belajar. Proses semacam itu menyangkut “insight” (berpikir) dan “reasoning” (menggunakan logika deduktif dan induktif). Bentuk belajar ini mengindahkan persepsi siswa, insight, kognisi dari hubungan esensial antara unsur-unsur dalam situasi ini. Jadi belajar tidak hanya timbul dari adanya stimulus-respon maupun reinforcement, melainkan melibatkan tindakan mental individu yang sedang belajar.

    Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa Gagne membagi bentuk-bentuk belajar menjadi lima bentuk, yang merupakan inti dari teori belajar, yaitu bentuk responden, kontiguitas, operant, observasional dan kognitif. Responden merupakan belajar yang dibentuk dengan adanya hubungan antara stimulus dengan respon. Kontiguitas sama dengan responden, akan tetapi untuk responden waktunya dilakukan secara bersamaan. Observasional merupakan bentuk belajar yang paling sederhana karena individu hanya mengamati orang lain kemudian meniru perbuatannya. Sedangkan kognitif merupakan bentuk yang tertingggi karena sudah memasuki wilayah insight.

  • Alat-Alat Mengajar

    Jerome Bruner membagi alat instruksional dalam 4 macam menurut fungsinya.

  1. Alat untuk menyampaikan pengalaman “vicarious”. Yaitu menyajikan bahan-bahan kepada murid-murid yang sedianya tidak dapat mereka peroleh dengan pengalaman langsung yang lazim di sekolah. Ini dapat dilakukan melalui film, TV, rekaman suara dll.
  2. Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip suatu gejala, misalnya model molekul atau alat pernafasan, tetapi juga eksperimen atau demonstrasi, juga program yang memberikan langkah-langkah untuk memahami suatu prinsip atau struktur pokok.
  3. Alat dramatisasi, yakni yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau tokoh, film tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk hidup, untuk memberi pengertian tentang suatu ide atau gejala.
  4. Alat automatisasi seperti “teaching machine” atau pelajaran berprograma, yang menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi balikan atau feedback tentang responds murid.

DAFTAR PUSTAKA

Baharudin, dan Wahyuni, Esanur, Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Ar Rozz, 2008

Muhibbin, Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung : PT. Remaja

Mulyati, Psikologi Belajar, Yogyakarta: C.V. Andi Offset. 2005

Mustaqim, Psikologi Pendidikan, 2007

Nasution, S., Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara. 2000

Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar (Jakarta: Depdikbud Dirjend Lembaga Tenaga Kependidikan, 1988), hlm. 15.

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), Cet.3, hlm. 65.

Gordon H. Bower dan Ernest R.Hilgard, Theories of Learning. 4th Edition. (New Jersey: Prentice Hall. Inc, 1998), hlm. 11.

Simanjutak, Lisnawaty, Metode Mengajar Matematika, Jakarta: PT Rineka Cipta. 1993

Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta. 1998

Sumanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1990

Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2006

http://blogpersimpangan.com

http://cafesfudiobi.wordpress.com

http://chokogito.blogspot.com

http://chokogito.blogspot.com

http://www.manmodelgorontalo.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s